Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Tata cara sholat gerhana bulan
Tata Cara Shalat Gerhana Bulan 
Jumlah Shalat Gerhana Bulan
Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at
dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berselisih
mengenai tata caranya.

Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana
dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap
raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat
bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada
dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang
lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama.18
Hal ini berdasarkan hadits-hadits tegas yang telah kami sebutkan:

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus
seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat
berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir.
Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua
raka’at.”19

“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari
pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami
manusia dan beliau memanjangkan berdiri.

Kemuadian beliau ruku’ dan
memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang
berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya.
Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun
lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan
memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau
mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai
mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.”20

Ringkasnya, tata cara shalat gerhana bulan -sama seperti shalat biasa dan bacaannya pun sama-, urutannya sebagai berikut.

1. Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat
termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu
’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga tidak
pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para
sahabatnya.

2. Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.

3. Membaca do’a istiftah dan berta’awudz,
kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang
(seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan
lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:
جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ
”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)

4. Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.

5. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’

6. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud,
namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang
panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

7. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.

8. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).

9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.

10. Kemudian bangkit dari sujud lalu
mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan
dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

11. Tasyahud.

12. Salam.

13. Setelah itu imam menyampaikan khutbah
kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a,
beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. 21

Nasehat akhir

Saudaraku, takutlah dengan fenomena alami ini.
Sikap yang tepat ketika fenomena gerhana ini adalah takut, khawatir akan
terjadi hari kiamat. Bukan kebiasaan orang seperti kebiasaan orang
sekarang ini yang hanya ingin menyaksikan peristiwa gerhana dengan
membuat album kenangan fenomena tersebut, tanpa mau mengindahkan
tuntunan dan ajakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika itu. Siapa
tahu peristiwa ini adalah tanda datangnya bencana atau adzab, atau
tanda semakin dekatnya hari kiamat. Lihatlah yang dilakukan oleh Nabi
kita shallallahu ’alaihi wa sallam:
( Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi
gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat,
sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat
dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat
beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,”Sesungguhnya ini
adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana
tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan
tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika
kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk
berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Alla‘)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *