Pengertian Ilmu Nahwu Dan Sejarah Munculnya Ilmu Nahwu

Pengertian Ilmu Nahwu Dan Sejarah Munculnya Ilmu Nahwu

Pengertian Ilmu Nahwu
Ilmu Nahwu

Pengertian ilmu nahwu 
Ilmu nahwu ialah ilmu yang untuk mengetahui hukum-hukum kalimat bahasa arab baik secara tersusun atau mufrod. Atau qoidah-qoidah untuk mengetahui dari bentuk-bentuk kata, baik dalam keadaan mufrod, atau tasniyah, maupun jama.

Ilmu nahwu menurut istilah lugot (bahasa) adalah tujuan, contoh, bagian dan lain sebagainya. Dalam penjelasan yang disampaikan oleh syaikh mustofa al-ghuyalani adalah ilmu yang menjelaskan tentang qoidah-qoidah yang dengan diketahui keadaan-keadaan kata bahasa arab baik dari segi i,rob dan mabninya. Maksudnya dari segi keadaan susunannya kia bisa mengetahui dari akhir lafad tersebut baik dalam keadaan tingkah rofa, nashib, jar dan jazem, ketika berada dalam suatu kalimat / atau susunan.

Ilmu Nahwu di artikan dengan sintaksis yang berarati, ilmu yang menyusun klaimat kalimat sehingga qoidah-qoidahnya mencakup hal lainnya selain i,rob dan mabni, seperti al-muthaqabah {Kesesuain bunyi dan al-maqiyyah} word-order, tata turut kata.

Sedangkan ilmu nahwu menurut maftuh ahnan, ilmu nahwu adalah pengatur atau penentu dari suatu kata atau lafad. Dalam arti yang memberi harokat pada setiap akhir kata, apakah diharokati fathah,sukun,dhomah atau kasroh.

Dari banyak definisi yang telah dinyatakan oleh bebrapa pendapat bisa kita simpulkan .bahwasanya ilmu nahwu adalah mengetahui qoidah-qoidah hukum dari kata-kata bahasa arab, ketika berdiri sendiri atau tersusun dalam kalimat dari segi i,rab dan mabni sehingga bisa dalat di tentukan harokat akhir dari kata tersebut ,dan juga untuk mengetahui suatu kebenarannya atau tidaknya ucapan.

Sejerah Munculnya Ilmu Nahwu 

Sejarah munculnya Ilmu Nahwu ini pada ketika zaman Abul Aswad Ad-Dauli datang kerumah puterinya di tanah Basroh, (pada masa sekarang sebuah negeri di negara Iraq). Pada saat itu puterinya mengatakanيَا أَبَتِ مَا اَشَدُّ الْحَرِّ, dengan membaca Rofa’ pada lafadz اَشَدُّ dan membaca jar pada lafazh الْحَرّ , yang menurut bahasa yang benar مَا nya dilakukan sebagai Istifham yang artinya: “Wahai Ayahku ! Kenapa sangat panas?
Dengan spontan Abul Aswad menjawapشَهْرُنَا هَذَا (Wahai Puteriku, bulannya memamg musim panas). 
Mendengar jawapan Ayahnya, puterinya langsung berkata : “Wahai Ayah, saya tidak bertanya kepadamu tentang panasnya bulan ini, tetapi saya memberi khabar kepadamu atas kekagumanku pada panasnya bulan ini (yang semestinya jika dikehendaki Ta’ajub diucapkan مَا اَشَدَّ الْحَرَّ , dengan membaca fathah pada اَشَدَّdan membaca Nashob الْحَرَّ ). 
Sejak kejadian itu, Abul Aswad lalu datang kepada sahabat, Amirul Mu’minin Khalifah ‘Ali, Seraya berkata “ Wahai Amirul Mukminin, bahasa kita telah tercampur dengan yang lain”, sambil menceritakan kejadian antara dia dan puterinya, maka buatlah saya sebuah ilmu, kemudian Amirul Mu’minin Khalifah ‘Ali membacakan:
اَلْكَلاَمُ كُلُّهُ لاَيَخْرُجُ عَنِ اسْمٍ وَفِعْلٍ وَحَرْفٍ الخ عَلَى هَذَا النَّحْوِ
Kalam itu tidak boleh lepas dari kalimat Isim, Fi’il, dan Huruf, dan teruskanlah untuk sesamanya ini”.
Kemudian Abul Aswad Ad-Dauli mengarang bab Istifham dan Ta’jjub, dan Di kisahkan pula dari Abul Aswad Ad-Duali, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat At-Taubah ayat 3 dengan ucapan : 
إِنَّ اللهَ بَرِيْءٌ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَرَسُوْلِهِ
Dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya di dhommah. Menjadikan artinya “…Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya..”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *