Sholat Sunnah Rowatib sepintas nampak
seperti hal yang biasa menurut kita.
Namun banyak dari kita yang tidak
mengetahui bahwa Rosulullah tidak pernah meninggalkan sholat sunnah ini
selain dalam perjalanan.
Kalaupun tertinggal karena lupa, sakit atau
tertidur, beliau mengqodo’nya. Dari sini dapat kita simpulkan betapa
pentingnya kedudukan sholat sunnah rowatib ini disamping sholat-sholat
fardlu.
ditekankan untuk dilakukan. Menurut pendapat beberapa ulama, orang yang
terus menerus meninggalkannya maka ketakwaannya tidak bisa dipercaya
dan ia pun berdosa. Alasannya, karena terus menerus meninggalkannya
menunjukkan kadar keislamannya yang sangat rendah dan ketidakpeduliannya
terhadap sholat sunnah rowatib.
Keistimewaan Shalat Rawatib
Adapun keistimewaan sholat sunnah
rowatib adalah merupakan penambal kekurangan dan kesalahan seseorang
ketika melaksanakan sholat fardlu. Karena manusia tidak terlepas dari
kesalahan, maka ia membutuhkan sesuatu yang dapat menutupi kesalahannya
tersebut.
Shalat Rawatib Berdasakan Hadits
Saya menghafal sepuluh rokaat dari Rosulullah: dua
rokaat sebelum sholat zhuhur, dua rokaat setelah sholat zhuhur, dua
rokaat setelah sholat maghrib di rumah beliau, dua rokaat setelah sholat
isya’ di rumah beliau, dan dua rokaat sebelum subuh. Sebelum subuh ini
adalah waktu di mana tidak seorang pun yang datang kepada Rosulullah
SAW. Hafshah memberitahuku bahwa jika muazin mengumandangkan adzan dan
fajar telah terbit, maka beliau sholat dua rokaat.
simpulkan bahwa sholat sunnah rowatib terdiri dari dua rokaat sebelum
Dzuhur, dua rokaat setelah dzuhur, dua rokaat setelah maghrib, dua
rokaat setelah isya’, dan dua rokaat sebelum subuh setelah terbit fajar.
Rosulullah sholat empat rokaat sebelum sholat dzuhur
di rumahku. Kemudian beliau keluar dan sholat bersama orang-orang, lalu
pulang ke rumahku dan melakukan sholat dua rokaat.
- Untuk menghindari riya’ (sikap pamer), ujub (membanggakan diri
sendiri), dan untuk tidak memperlihatkan amal baik kepada khalayak
ramai. - Lebih mudah untuk khusyuk dan ikhlas lantaran suasananya yang sepi (tidak banyak orang).
- menghidupkan rumah dengan dzikir kepada Allah dan sholat seperti sabda Rosulullah,
Jadikanlah sebagian sholat kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan kalian menjadikannya sebagai kuburan
sunnah rowatib ini adalah sholat sunnah sebelum fajar. Hal ini
berdasarkan riwayat dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata,
tidak ada sholat sunnah yang paling dijaga oleh Rosulullah selain dua rokaat fajar.
Dua rokaat sholat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya
melakukan sholat dua rokaat fajar dan sholat witir, baik ketika di rumah
maupun ketika dalam perjalanan.
sholat sunnah fajar tidak disunnahkan dilakukan ketika dalam perjalanan.
Hal ini didasarkan dari riwayat ketika Ibnu Umar r.a. ditanya tentang
sholat rowatib Dzuhur ketika dalam perjalanan ia berkata,
Seandainya aku melakukan sholat rowatib, tentunya aku tidak mengqoshor sholat.
Termasuk tuntunan Rosulullah dalam perjalanan adalah
mengqoshor sholat fardlu. Tidak ada riwayat dari beliau yang menunjukkan
bahwa beliau melakukan sholat sunnah sebelum dan setelah sholat qoshor
tersebut, kecuali sholat witir dan sholat sunnah fajar
mensunnahkan untuk memendekkan sholat sunnah fajar. Berdasarkan riwayat Shohih Bukhori dan Muslim Aisyah r.a. berkata :
Rosulullah selalu memendekkan sholat dua rokaat sebelum sholat subuh.
setelah membaca Al Fatihah Rosulullah melanjutkannya dengan membaca
surat Al Kafirun dan pada rokaat kedua dengan Al Ikhlash.
Pernah juga
pada rokaat pertama Rosulullah membaca surat Al Baqoroh ayat 136 setelah
membaca Al Fatihah dan Ali Imron ayat 64 pada rokaat kedua. Hal ini
juga dilakukan beliau pada sholat dua rokaat setelah maghrib berdasarkan
riwayat Al Baihaqqi dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a. yang menjelaskan
tentang seringnya Roslulullah membaca surat Al Kafiruun dan Al Ikhlas
pada sholat dua rokaat setelah sholat maghrib dan sebelum sholat subuh.
terlewat, disunnahkan untuk mengqodo’nya. Demikian juga jika terlewat
sholat witir, maka disunnahkan untuk mengqodo’nya di siang hari.
Rosulullah mengqodho’ dua rokaat sholat sunnah fajar dan sholat subuh
ketika tertidur dan belum melaksanakannya.
Beliau juga pernah mengqodho’
sholat sunnah qobliyah dzuhur setelah sholat ashar. Adapun
disyariatkannya mengqodho’ sholat sunnah rowatib lainnya dapat
dianalogikan sholat-sholat yang disebutkan di dalam nash hadist.
Barangsiapa tertidur atau lupa dan tidak sholat witir, hendaknya melakukannya ketika ia bangun atau ketika mengingatnya. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
juga mengqodho’ sholat sunnah sebelumnya. Hal ini didasarkan pada
riwayat Aisyah r.a. yang ia berkata,
Rosulullah jika tidak sholat malam karena tidur atau sakit, beliau sholat di siang hari dua belas rokaat.
Wasalamuu laikum wr’wb……………..


