Kisah Dan Karomah Kewalian Sunan Ampel | Ngajifiqih

Kisah Dan Karomah Kewalian Sunan Ampel | Ngajifiqih

Karomah Dan Kewalian Sunan Ampel
Ngajifiqih.com-Selamat malam semuanya, karena saya buat artikel ini malam hari, jadi saya anggap kalian yang sedang membaca artikel ini malam-malam juga. Pada artikel kali ini saya akan membahas tentang Kisah Kewalian Walisongo, dimana kita tahu dalam sejarah, penyebaran Agama Islam di Indonesia tidak bisa terlepas dari Peran Para Walisongo. Perjuangan berdakwahnya memang harus kita kenang dan dijadikan contoh yang baik dalam hidup. Siapa saja Para Wali yang tergabung dalam Wali Sanga? Berikut ini Daftarnya :

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
3. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
4. Sunan Drajat
5. Sunan Kudus
6. Sunan Giri
7. Sunan Kalijaga
8. Sunan Muria (Raden Umar Said)
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Semua Walisongo dari yang pertama dan terakhir, memiliki kisah Berdakwahnya masing-masing, Nah pada kesempatan kali ini saya ingin menuliskan Artikel Tentang Kewalian Sunan Ampel, kalian bisa simak baik-baik Artikelnya dibawah ini yah!

KISAH KEWALIAN SUNAN AMPEL

Kalian tahu daerah Bukhara tidak? Kalau kalian belum tahu, Bukhara adalah sebuah kotia di Samarqand, Uzbekistan. Daerah Bukhara ini terkenal sekali karena berhasil melahirkan ulama – ulama besar yang termashur dan pewaris hadist sahih, kita ambil contoh saja seperti Imam Bukhari.
Pada Zaman dahulu, Di Samarqand ada seorang ulama yang bernama Syekh Jamalludin Jumadil Kubra, Beliau adalah Ulama besar, seorang Ahlusunnah yang bermazhab Syafi’I, Beliau mempunyai Putra yang bernama Ibrahim Samarqand, dalam sejarah Beliau memint putranya itu untuk berdakwah ke negeri-negeri di Asia. Oleh Putranya Perintah ini dilaksanakan dengan Baik, sehingga singat cerita Ibrahim Samarqand diambil menantu oleh Raja Cempat dengan di nikahkan dengan Putri Raja bernama Dewi Candrawulan, menurut sejarah yang tertulisKerajaan Cempat berada di Muangthai. Dari perkawinannya dengan Dewi Candra Wulan Ibrahim Samarqand dikarunia dua orang Putera Yaitu Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayid Ali Murtado.

KEDATANGANYA KE TANAH JAWA

Dewi Candra Wulan, Memiliki Adik kandung bernama Dewi Dwarawati yang di nikahi oleh Prabu Brawijaya dari Majapahit, ini membuat status kedua anak dari Dewi Candra Wulan dan Sayyid Ali Rahmatullah meningkat menjadi tergolong Putera Bangsawan atau pangeran Bangsawan, dimana pada waktu itu Bangsawan danPangeran Kerajaan diberikan gelar Rahadian yang memiliki arti Tuanku.
Menikahnya Raja Majapahit Prabu Brawijaya dengan Dewi Dwarawati membuat Sang Raja menceraikan Semua Istrinya, Istrinya yang di ceraikan itu diberikan kepada para adipati setianya, alasan menceraikannya dikatakan oleh sejarah karena Prabu Wijaya terpikat oleh Wajah dan Kepribadian Dewi Dwarawati.
Ditinggalnya Majapahit oleh Mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk membuat kondisi kerajaan mengalami kemunduruan yang sangat drastis, Kerajaan menjadi tidak karuan karena terpecah belah, terjadinya perang saudara,Dalam sejarah dikatakan bahwa, Pajak dan Upeti yang seharusnya sampai ke Istana Majapahit, tidak pernah sampai dan lebih sering di makan sendiri oleh Para Adipatinya itu sendiri.
Baca Juga :
                    Kisah Sunan Kalijaga Dan Ratu Kidul
                    Biografi Lengkap Ulama Nusantara 
Hal ini membuat Prabu Brawijaya merasa sedih hatinya, terlebih lagi para bangsawan dan pangeran yang suka main judi dan mabuk-mabukan, ini akan membuat Majapahit hancur berkeping-keping jika tidak ditangani dengan segera, dan Prabu Brawijaya sadar betul akan itu.
Melihat suaminya sedang dalam kesedihan, Dewi Drawati memberanikan diri untuk memberikan Pendapatanya, Dewi Drawati mengatakan bahwa dia mempunayi seorang Ponakan yang sangat Ahli dalam memberikan Pendidikan dan mampu mengatasi kemerotosatan Sosial.
Dewi Drawati, mengatakan Keponakannya itu bernama Sayyid Ali Rahmatullah Putera dari Kakanya Dewi Candra Wulan, Prabu Brawijaya kemudian mengizinkan istriny untuk meminta Putera dari Kakanya itu untuk datang ke majapahit.
Sesuai dengan Perintah dari Prabu Brawijaya berangkatlah Utusan Majapahit ke Negeri Cempa, ketika sampai di Kerajaan Cempa, utusan dari Majapahit di sambut dengan baik, dan Raja Cempa bersedia untuk mengirimkan Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit, dengan tugas untuk meluaskan pengalaman cucunya itu.
Menurut Data Sejarah, Sayyid Ali Rahamatullah datang ke Pulau Jawa tidak sendiriaan, ditemani dengan Kaka dan Ayahnya, Namun Ayahnya dan Kakanya tidak langsung berangkat ke Majapahit, beliau terlebih dahulu datang ke Tuban. Namun dalam kunjunganya ke Tuban Ayahanda Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit, dan meninggal dunia. Tepatnya di desa Gesikharjo dam dimakamkan didesa tersebut.

Tinggal Sayyid Murtadho kaka dari Sayyid Ali Rahmatullah, beliau meneruskan perjuangan Dakwah ayahnya berkeliling daerah Nusa Tenggara, Madura dan sampai ke Bima. Di Bima beliau disambut oleh Raja Pandita, kemudian meneruskan perjalanan dakwahnya ke Gresik, di Gresik Beliau mendapatkan gela Raden Santri. Perjalanan Dakwahnya berhenti di Gresik, beliau Wafat dan dimakamkan di Gresik.
Singkat Cerita, Kapal Layar yang ditumpangi oleh Sayyid Ali Rahmatullah berlabuh di Pelabuhan Canggu, kedatanganya disambut oleh Suka cita Prabu Brawijaya dan Istrinya. Prabu Brawijaya kemudian langsung mengajukan penawaranya kepada Sayyid Ali Rahmatullah, dikatakan oleh Prabu Brawijaya bahwa bersediakan Engaku memberikan pelajaran dan mendidikan kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar memiliki Budi Pekerti yang Mulia, dengan Bahasa yang halu Sayyid Ali Rahmatullah menyanggupi permintaan dari Prabu Brawijaya.

Prabuwijaya kemudian menghadiahkan Sayyid Ali Rahmatullah sebidang tanah di daerah Surabaya dan kemudian juga menikahkanya dengan salah satu Putri Majapahit bernama Dewi Candrowati.

Perjalanan Rombongan Raden Rahmat, atau Sayyid Ali Rahmatullah. Nama Raden Ramat ini didapatkannya setelah menikah dengan Dewi Cadrowati. Raden Rahman berangkat ke daerah di Surabaya yang kemudian dikenal dengan nama Ampeldenta. Rombongan Raden Rahmat melewati beberapa desa seperti, Desa Krian, Dewa Wonokromo dan Kembakuning, Raden Rahmat tidak menyia-nyiakan waktunya dalam perjalanan, sepanjang perjalanan melintasi desa-desa tersebut Raden Rahmat selalu memberikan Dakwah. Dalam menjalankan Dakwahnya, beliau menggunakan langkah kreatif ya itu dengan membuat sebuah kipas angina dari sebuah akar tumbuhan pilihan dan juga membuat anyaman Rotan. Hasil kreasinya ini dibagikan kepada Masyarakat secara gratis, Masyarakat hanya harus menukarkannya kipas itu dengan Kalimat Syahadat.

Baca Juga :
                    Kisah Walisongo Terlengkap
                    Hukum Khomer Menurut Ijma
                    Syekh Subakir Penumbal Tanah Jawa

Banyak masyarakat yang merasa senang karena diberikan Kipas. Ditambah lagi dengan sembuhnya beberapa penyakit Warga yang memiliki Penyakit Batuk dan demam. Ini membuat masyarakat semakin banyak berdatangan menemui Raden Rahmat. Kesempatan ini diambil oleh Raden Rahmat untuk mengenalkan Agama Islam yang indah.

Sampai di Kembang Kuning, Raden Rahmat dan Rombongan membuka Lahan dan mendirikan Tempat sembahyang sedehana, saat ini bangunan itu sudah menjadi Masjid yang cukup besar dan diberikan nama sesuai dengan nama Raden Rahmat,yaitu Masjid Rahmat Kembang Kuning.

Singkat ceritanya, Raden Rahmat tinggal dan menetap di AmpelDenta, tempat tujuannya dan rombongan. Hal yang pertama kali dilakkan oleh Raden Rahmat adalah membangun Masjid sebagai kegiatan beribadah, dan juga meneladani apa yang dilakukan oleh Rasullah pada saat pertama kali sampai di Madinah. Raden Rahmat atau Sayyid Ali Rahmatullah memiliki Gelar Sunan Ampel atau kemudian dikenal Sebagai Sunan Ampel.

Setelah mendirikan Masjid, Raden Rahmat atau Sunan Ampel Kemudian mendirikan Pesantren, untuk memenuhi kewajibanya yang di amanahkan oleh Prabu Wijaya untuk mendidik Putra Bangsawan dan Pangeran Majapahit.

Hasil dari Pendidikan Sunan Ampel membuahkan hasil, dan melahirkan banyak pangeran dan bangsawan yang memiliki budi pekerti yang baik. Ini membuat Prabu Brawijaya merasa senang, dan kemudian mengijinkan Sunan Ampel untuk menyebarkan Agama Islam di Surabaya dan bahkan seluruh Majapahit. Dengan syarat tidak boleh ada paksaan.

Dari sekian banyak Pelajaran yang diajarkan oleh Sunan Ampel, ada 5 ajarannya yang sangat terkenal yaitu :

1. Moh Main atau tidak mau berjudi
2. Moh Ngombe atau tidak mau minum arak
atau bermabuk-mabukan
3. Moh Maling atau tidak mau mencuri
4. Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain.
5. Moh Madon atau tidak mau berzinah/main perempuan yang bukan isterinya.

Sunan Ampel dalam sejarah dicatat banyak sekali membantu menyebarkan Risallah Islam di Pulau Jawa, dan memiliki banyak murid yang membantunya menyebarkan Islam ke Pulau Jawa Lebih Luas lagi, Sejarah Mencatat Sunan Ampel Wafat pada tahun 1478 M dan dikebumikan disebelah barat Masjid Ampel.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *