Ngajifiqih.com-Berangkat dari ke ingintahuan saya tentang kehidupan Para Wali pada zaman dulu, saya mulai mencari informasi, dari mulai perpustakaan, Googling, sampai bertanya kepada orang tua saya, saya mengerucutkan pertanyaan saya tentang Sejarah Kewalian Sunan Kalijaga, dan berikut jawaban yang saya dapatkan dari usaha saya mencari informasi tentang itu.
Memiliki nama kecil Raden Said, Sunan Kalijaga merupakan Wali yang paling banyak dikenal di masyarakat Jawa, selain Raden Said, Sunan Kalijaga juga memiliki bebrapa nama panggilan lainnya seperti, Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman, terkait Nama Sunan Kalijaga banyak versi yang menyebutkan berbeda.
Masyarakat Cirebon juga mengaitkan nama Sunan Kalijaga ini berawal dari kesukaan Dari Sunan Kalijaga yang suka berendam di sungai/kali.
Baca Juga :
Kisah Biografi syekh Quro Karawang
Kisah Kewalian Sunan Ampel
nama
Sunan Kalijaga juga hadir dengan dakwah yang bisa dibilang kreatif pada saat itu, dia menggunakan media kesenian dan kebudayaan sebagai sarana berdakwah.
Pada masa hidupnya, Sunan Kalijaga ikut membangun dan merancang pembangunan Masji Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak, Pada m a sa hidupnya juga Sunan Kal ijaga mengalami masa akhir Kekuasaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1478 , dan kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, Bahkan juga mengalami saat dimana Kerajaan Pajang Lahir pada tahun 1546 dan Kerajaan Mataram yang di pimpin oleh Penambahan Senopati.
Ratu Pembayun (Istri Sultan Trenggono) Nyai Ageng Panenggak ( Istri Kiai Pakar) dan Sunan Hadi (Pengganti Kedudukan Sunan Kalijaga di Kadilangu) dan Raden Abdurrahman juga Nyang Ageng Ngerang.
Seperti yang saya katakan diatas tadi, Bahwa Sunan Kalijaga memiliki Ide kreatif dalam berdakwah, ide itu sebenarnya dibangun dengan rasa toleransi yang tinggi, menurut Sunan kalijaga masyarakat akan menjauh jika diserang pendirianya, maka Masyarakat harus didekati dengan cara yang halus dan bertahap, Sunan Kalijaga memiliki pemikiran bahwa jika Agama Islam sudah dipahami, maka dengan sendirinya Kebiasaan masyarakat yang lama akan hilang sendirinya. .
Mulai dari Seni ukir, Wayang, Gamelan serta Seni Suara Suluk dijadikan Sarana Dakwah oleh sunan Kalijaga, ini membuatnya terkesan Sinkretis dalam mengenalkan Islam, perlu kalian ketahui Sunan Kalijaga adalah yang mencetuskan Baju Takwa, Perayaan Sekatenan, Grebeg Maulud dan juga Layang Kalimasada ada lagi Lakin Wayang Petruk jadi Raja.Metode ini dinilai berhasil, karena berhasil membuat Adipati Besar di jawa memeluk islam, diantaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, dan Pajang.
Baca Juga :
Biografi Syekh Nawawi Al-bantani
Biografi syekh Kholil Bangkalan
nama
Semar dalam bahasa Arab adalah Simaar, yang memiliki arti Paku, ini diartikan bahwa Agam Islam itu kuat seperti paku yang sudah tetancap, tidak tergoyahkan.
Petruk dalam bahasa arab Fat-ruk, yang memiliki arti Tinggalkanlah, ini diartikan bahwa kita harus meninggalakn segalanya selain Allah
mempunyai banyak teman, ini diartikan bahwa tujuan Para Wali berdakwah adalah untuk memiliki banyak teman.
Bagong Dalam bahasa Aran Baghaa, yang memiliki Arti Lacut atau berontak, ini diartikan dalam hidup kita harus berani memberontak pada segala sesuatu yang Dzalim.
Banyak makna yang terkandung dalam kesenian yang dibuat oleh Sunan Kalijaga, Seperti yang kita ketahui makna dari Lagu Lir-ilir.
Sunan Kalijaga diangkat menjadi Anggota Wali Sang anggkatan ke IV pada tahun 1463 M, Sunan Kalijaga diangkat bersama Raden Mahdum Ibrahim atau kita kenal sebagai Sunan Bonang, Raden Paku (Sunan Giri) dan Raden Qosim (Sunan Drajat), Baik Sunan Kalijaga dan ketiga Sunan Lainnya berasal dari Perguruan dan dalam waktu yang hampir sama yaitu dari Perguruan Ampel Denta, yang di pimpin oleh Sunan Ampel.
ke wilayah Serah, Siwalan, Sumurber, dan karangenang, sungai Lebak, Dalegan dan Sampai Ujung Pangkah.
kompromi atau berdiskusi dalam menekan ketidak sukaan masyrakat terhadap Ajaran Islam saat itu, Sunan kalijaga lebih memilih untuk mencoba membuat masyarakat bergaul dengan para wali, dan perlahan-lahan memberikan ajaran Agama Islam, cara ini memang sangat efektif, mengingat kalau kita lihat sekarang Jumlah Umat Islam mendominasi di Indonesia, kita mungkin patutnya meniru dan mencontoh Cara Sunan kalijaga menyampaikan Ajaran Agama Islam.
Sejarah dari Sunan Kalijaga ini tidak terlepas keberadaan Desa Surowiti di Gresik dimana desa itu banyak menyimpan sejarah, seperti yang sudah menjadi keyakinan bersama bahwa Desa itu pernah menjadi tempat Sidang para wali sanga pada tahun 1404, Desa Surowiti menjadi tempat sidang para wali dari Tahun 1404 sampai dengan 1466, banyak perkara yang dibahas disana, seperti salah satunya adalah Perkara Syekh Siti Jenar.
Jika boleh di simpulkan, Sunan Kalijaga merupakan wali yang sangat berpengaruh di tanah jawa, karena mampu menarik masyarakat memeluk islam tanpa harus menghancurkan pribadi mereka, namun menghilangkanya, cara ini kemungkinan didasarkan pada pertimbangan – pertimbang dasar, seperti, Masyarakat Jawa saat itu merupakan Pemeluk Agama Hindu dan Budda yang Taat, sebagian lagi memeluk kepercayaan Warisan nenek Moyang mereka, sehingga akan terasa sulit sekali jika harus langsung memberikan Ajaran Islam. Maka dari itu di ciptakanlah ide kreatif dengan menyampaikan dakwah melalui kesenian dan kebudayaan.
Sunan Kalijaga Wafat pada tahun 1586 M. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di usia 131 Tahun, dan jenazahnya dimakamkan di Desa Kadilangu yang merupakan daerah Kabupaten Demak.


